TANA TIDUNG - Disdikbud KTT melakukan langkah progresif untuk meningkatkan mutu pendidikan dasar, khususnya kemampuan membaca siswa SD. Disdikbud KTT akan melakukan pengukuran kompetensi literasi dasar di seluruh SD/MI. Pengukuran ini bertujuan menghasilkan peta kemampuan membaca siswa SD, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. “Hasil pengukuran akan digunakan untuk memberikan layanan lebih tepat, agar anak-anak kita bisa lebih cepat terampil membaca,” terang Kadisdikbud KTT, Jafar Sidik saat membuka Pelatihan Monitoring dan Pengolahan Data Literasi Kelas Awal di Tidung Pale, Kamis (20/02/2020).
Jafar mengatakan Disdikbud KTT tengah fokus meningkatkan kualitas pendidikan. Pada tahap awal, Disdikbud KTT akan memperbaiki kemampuan membaca siswa kelas awal (kelas 1-3 SD). Perbaikan ini bertujuan mempersiapkan anak memiliki pondasi belajar yang baik. Jika kemampuan membaca dan menulis anak sudah baik, maka kinerja belajarnya juga membaik. “Karena membaca dan menulis merupakan alat belajar. Hanya dengan terampil membaca dan menulis, anak bisa memahami dan mengusasi mata pelajaran,” tegasnya.
Lebih lanjut Jafar mengatakan, perbaikan mutu pendidikan akan terus dilanjutkan sampai level SMP. Setelah perbaikan literasi kelas awal selesai, maka dilanjutkan ke kelas tinggi (kelas 4-6). Itu sebabnya pengukuran kompetensi literasi dasar tidak hanya menyasar siswa kelas awal, tetapi juga siswa kelas tinggi. “Dengan data yang kita dapatkan nanti, Disdikbud KTT bisa merancang program untuk kelas tinggi,” tukasnya.
Dalam pengukuran ini, Disdikbud KTT mendapat dukungan dari Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI). INOVASI merupakan program kemitraan antara pemerintah Australia dan Indonesia. Program ini bertujuan meningkatkan mutu pendidikan dasar, khususnya dibidang literasi, numerasi dan inklusi.
Provincial Communication Officer INOVASI Kaltara, Erix Hutasoit mengatakan, pihaknya memberikan dukungan teknis kepada KTT. Bersama Disdikbud KTT, INOVASI merancang metodologi, menyusun alat test dan menganalisis hasil. Desain pengukuran ini mengacu kepada kaidah pengukuran keterampilan membaca siswa yang digunakan secara internasional.”Pengukuran serupa sudah pernah kami lalukan di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, dan Kalimantan Utara,” tambahnya.
Erix mengatakan, pengukuran menggunakan sampling dari seluruh SD dengan responden sebanyak 30 persen dari total siswa SD yang ada di KTT. Adapun katagori yang diukur adalah pengenalan huruf, suku kata, kata, kelancaran dan pemahaman. Sebanyak 70 enumerator (pengumpul data) sedang dilatih dan dipersiapkan untuk melakukan pengukuran ini. Direncanakan, hasil pengukuran ini sudah bisa disajikan kepada publik akhir Maret 2019.
Sejak Desember 2019, KTT mulai menjawab tantangan rendahnya keterampilan membaca secara sistematik. Sejumlah studi internasional menunjukkan rendahnya keterampilan membaca di kelas awal, menjadi penyebab terpuruknya mutu pendidikan di Indonesia. Hasil Assessment Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) Kemdikbud 2016, menunjukkan 47 persen siswa kelas IV Indonesia tidak terampil membaca. Hasil serupa disajkan Bank Bunia melalui laporan bertajuk Learning Poverty yang dirilis November tahun lalu, hasilnya sepertiga anak Indonesia berusia 10 tahun tidak mampu membaca dan memahami isi cerita sederhana. Bahkan hasil PISA (Program International for Student Assessment) menunjukkan sebanyak 70 persen pelajar Indonesia berusia 15 tahun, kompetensi membacanya dibawah kompetensi minimal.
23 Jun 2026
22 Jun 2026
19 Jun 2026
19 Jun 2026
18 Jun 2026
16 Jun 2026
15 Jun 2026
15 Jun 2026